Innalillahi…Sosok mengagumkan itu kembali terngiang dalam memori…
Si cerdas, tangguh, bijak dan entah apa…sepertinya aku butuh kata baru untuk menggambarkan ke-luarbiasa-annya…
Aku kembali lagi kagum dan kagum, hanya dapat mengaguminya… astagfirullah…. tipu daya syetan itu ya Allah… astagfirullah.
Si cerdas, tangguh, bijak dan entah apa…sepertinya aku butuh kata baru untuk menggambarkan ke-luarbiasa-annya…
Aku kembali lagi kagum dan kagum, hanya dapat mengaguminya… astagfirullah…. tipu daya syetan itu ya Allah… astagfirullah.
“Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,
harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”(QS. Ali-Imran: 14)
Sebagai aktivis dakwah sudah pasti,
ujian dalam mengarungi samudra kehidupan dakwah ini tidaklah akan mudah.
Beragam tantangan gulungan ombak penghalang akan terus datang.
Menerpaperjalananhinggakelakkitasampai di finishnya. Dengan porak-poranda mungkin,
basah kuyup, ya itu sudah pasti. Namun bagaimana pun, itu semua akan dan harus dilalui.
Cinta. Rasanya ini merupakan salah satu ujian berat
yang harus dilalui kita para aktivis dakwah.Cinta dalam konteks sebuah rasa ‘manusiawi’
yang timbul antar dua insan yang berlainan jenis. Layaknya cinta Adam dan hawa, cinta
Yusuf dan Zulaikha, cinta baginda Rasulullah dan ibunda Siti Khadijah. Rasa
ini tentunya sangat rentan sekali untuk kita para aktivis dakwah thulabi yang kesehariannya senantiasa dihadapkan pada kenyataan dan keharusan kita berinteraksi intensif antarlawan jenis sesama aktivis dakwah.
Tentunya tidak dapat dipungkiri,
bahwa cinta akan timbul karena terbiasa. Terbiasa beramal jama’i bersama,
terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan dakwah bersama,
terbiasa saling mengingatkan dalam kebaikan bersama,
bahkan mungkin terbiasa menangis bersama dalam berbagai muhasabah tiap
agenda. Merasai bersama pahit manis,
asam-garam kehidupan dakwah kampus atau sekolah dalam kurun waktu yang
tidak bisa dibilang sebentar. Tentu benih-benih itu tanpa ditanam dan disiram pun
akan tetap bertumbuh.
Tidak ada yang
salah atas itu semua. Bukan hal yang
salah jika kita jatuh cinta. Bahwasanya aktivis dakwah pun
juga hanya manusia biasa bukan? Maka jangan salahkan cinta, pun jangan pula
terbebani dengannya, apalagi sampai berusaha untuk membunuhnya. Karena sejatinya dia adalah fitrah. Dan
fitrah cinta ini adalah persoalan bagaimana kita dalam menyikapinya.
Beberapa baris kalimat pembuka di
atas sangat mungkin pernah terbesit dalam hati-hati kita. Ketika melihat sosok aktivis militan
yang pesona keimanannya begitu memancar. Keshalihan pribadinya begitu nampak. Pemikiran briliannya selalu menyempurnakan kerja-kerja dakwah. Ditambah
aura kepemimpinannya yang bijaksana lagi tegas. Salahkah jika muncul rasa
itu? Sekali lagi tidak. Bukan perasaan itu yang salah, melainkan pilihan langkah kita yang
sering kali salah dalam menyikapinya.
Lantas apa dan bagaimana cara kita untuk menyikapinya?
Seorang ustadz pada siarannya di
salah satu radio dakwah pernah menyampaikan, bahwasanya benar,
cinta datang dari mata turun kehati, dari pendengaran turun ke hati. Maka jagalah keduanya ini. Jagalah dengan sungguh-sungguh seluruh indera
yang
dikaruniakan olehNya. Menjaganya dengan sebenar-benar penjagaan dan memohon pada pemiliknya dengan segala kerendahan dan penghambaan untuk senantiasa yang diridhai-Nya. Menjaga pandangan untuk menjaga hati
(ghodul bashar ilaa ghodul qulub). Maka hal penting pertama adalah ini,
jangan pernah sepelekan hal ini.
Kemudian sadarilah. Bersegeralah
‘menyadarkandiri’, bahwasannya semua rasa yang timbul itu adalah fana, maya,
semu. Rasa itu timbul oleh karena adanya sebab. Maka seiring dengan hilangnya sebab-sebab
yang mengharuskan kebersamaan dan ke-terbiasa-an tersebut, maka akan menyertai pula
hilangnya perasaan yang pernah bertumbuh itu. Cepat atau lambat pun rasa
itu akan berkurang lalu hilang.
Lalu yakinlah. Bahwasanya jelas janji-Nya dalam
Al-Quran. Telah Ia siapkan laki-laki baik untuk perempuan-perempuan baik, pun
sebaliknya. Jika dalam al-hudaitu pun telah jelas tertulis,
maka masih adakah alasan kita untuk meragu?
Mari
sibukkan diri dalam perbaikan. Meningkatkan kualitas diri dan berusaha memantaskan diri untuk mendapatkan satu
yang terbaik yang
telah disiapkan oleh-Nya untuk masing-masing dari kita. Jangan biarkan tipu daya syetan itu memonopoli hati dan pikiran kita. Menjerembabkan diri kita ke jurang nista.
Wallahu’alambishshowab
Edited from http://www.dakwatuna.com *Kolom kaderisasi Tabloid Shoutuna ed VI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar