Era
globalisasi saat ini menuntut adanya kualitas terutama dalam bidang pendidikan
yang merupakan pondasi sebuah bangsa yang besar. Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Samarinda nampaknya mulai dapat menjawab tantangan tersebut. Hal
ini dapat dilihat dari kerja keras lembaga untuk mendirikan program
pascasarjana (S2) yang telah diresmikan beberapa waktu yang lalu. Antusiasme
masyarakat khususnya guru PAI, juga membantu dalam penggerakkan program pasca
ini. Puluhan mahasiswa yang telah diseleksi secara ketat meninggalkan sekitar
85 orang yang sebagiannya mendapatkan beasiswa penuh dari dinas pendidikan
sedang sebagian lainnya masih mandiri.
Komitmen
ini terealisasi dalam agenda kuliah perdana program pasca yang telah di
laksanakan beberapa saat yang lalu, kamis (10/5) bertempat di aula gubernur
provinsi Kalimantan Timur yang menghadirkan pembicara oleh Prof. DR. Noersyam,
MA (Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI). Agenda diawali pada pukul
08.30 wita dengan pembukaan acara, kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu
Indonesia Raya. Setelah itu, penyampaian laporan yang diwakilkan oleh puket III
Dra. Hj. Noorthaibah, M.Ag, sambutan yang diwakilkan oleh asisten ahli dan
kemudian masuk pada acara inti yaitu kuliah perdana.
“Jangan
berhenti berinovasi dan dikembangkan untuk menatap masa depan di era
globalisasi”, ucap pembicara dalam kuliah umum. Selain itu, beliau mengatakan
harus ada kerja cerdas, kebersamaan dan solidaritas kelompok yang perlu
diperhatikan untuk mencapai tujuan tersebut. Lanjutnya kembali, “bersama kita
bisa, tapi kita tidak bisa bersama-sama”. Kuliah umum pagi itu ditutup dengan
pembacaan do’a oleh H. Khairi Abu Syairi, Lc, MA.
Agenda
kuliah umum dilanjutkan kembali beberapa saat sesudahnya dengan orasi ilmiah
oleh pembicara yang sama. Beliau membagikan pengalamannya saat mengikuti sidang
tepatnya tanggal 14 januari beberapa waktu yang lalu di sebuah forum yang luar
biasa. Didalamnya beliau menceritakan, ada yang mengatakan bahwa tingkatan
agama sederajat dengan kesenian. Hal itu dikarenakan, mereka beraliran
positivisme dalam berpandangan. Aliran positivisme mengajarkan bahwa objek
material ilmu harus bisa dilihat, dirasakan, sampai diobservasi. Mereka
beranggapan bahwa agama tidak mempunyai ilmu. Prof. Noersyam pun keberatan jika
agama dikatakan sederajat dengan kesenian yang disamakan seperti ketoprak,
wayang dan sebagainya. Ia berkeyakinan bahwa ada sebuah ilmu agama, sedang yang
menjadi objeknya adalah teks-teks islam seperti al-qur’an, hadits, dan ijma’
ulama yang dikaji tentang keyakinan melalui paradigma dan metode ilmiah. Beliau
mengatakan bahwa ilmiahnya berbeda dengan yang lainnya. “Teks-teks islam
tersebut dikaji, sehingga menjadi beberapa disiplin ilmu seperti ilmu tafsir,
ilmu hadis dan sebagainya”, tambahnya.
Kemudian,
ia mengatakan bahwa ada beberapa isu yang menjadi topik dalam bahasannya. Pertama,
pengadilan tinggi agama akan diambil alih oleh mahkamah agung. Selain itu, isu
lainnya ialah bagaimana pendidikan tinggi agama harus diserahkan kepada dinas
pendidikan dan kebudayaan. Yang ketiga, pengembangan integritas terhadap fokus
kajian keagamaan untuk mencapai intergritas. “Tugas kita sekarang adalah
mendialogkan teks agama dengan realitas empiris”, ucap Prof. DR. Noersyam. (RA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar