Jumat, 11 Mei 2012

Inovasi dan Pengembangan Integritas Pendidikan Tinggi Agama


Era globalisasi saat ini menuntut adanya kualitas terutama dalam bidang pendidikan yang merupakan pondasi sebuah bangsa yang besar. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda nampaknya mulai dapat menjawab tantangan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kerja keras lembaga untuk mendirikan program pascasarjana (S2) yang telah diresmikan beberapa waktu yang lalu. Antusiasme masyarakat khususnya guru PAI, juga membantu dalam penggerakkan program pasca ini. Puluhan mahasiswa yang telah diseleksi secara ketat meninggalkan sekitar 85 orang yang sebagiannya mendapatkan beasiswa penuh dari dinas pendidikan sedang sebagian lainnya masih mandiri.
Komitmen ini terealisasi dalam agenda kuliah perdana program pasca yang telah di laksanakan beberapa saat yang lalu, kamis (10/5) bertempat di aula gubernur provinsi Kalimantan Timur yang menghadirkan pembicara oleh Prof. DR. Noersyam, MA (Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI). Agenda diawali pada pukul 08.30 wita dengan pembukaan acara, kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, penyampaian laporan yang diwakilkan oleh puket III Dra. Hj. Noorthaibah, M.Ag, sambutan yang diwakilkan oleh asisten ahli dan kemudian masuk pada acara inti yaitu kuliah perdana.
“Jangan berhenti berinovasi dan dikembangkan untuk menatap masa depan di era globalisasi”, ucap pembicara dalam kuliah umum. Selain itu, beliau mengatakan harus ada kerja cerdas, kebersamaan dan solidaritas kelompok yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan tersebut. Lanjutnya kembali, “bersama kita bisa, tapi kita tidak bisa bersama-sama”. Kuliah umum pagi itu ditutup dengan pembacaan do’a oleh H. Khairi Abu Syairi, Lc, MA.
Agenda kuliah umum dilanjutkan kembali beberapa saat sesudahnya dengan orasi ilmiah oleh pembicara yang sama. Beliau membagikan pengalamannya saat mengikuti sidang tepatnya tanggal 14 januari beberapa waktu yang lalu di sebuah forum yang luar biasa. Didalamnya beliau menceritakan, ada yang mengatakan bahwa tingkatan agama sederajat dengan kesenian. Hal itu dikarenakan, mereka beraliran positivisme dalam berpandangan. Aliran positivisme mengajarkan bahwa objek material ilmu harus bisa dilihat, dirasakan, sampai diobservasi. Mereka beranggapan bahwa agama tidak mempunyai ilmu. Prof. Noersyam pun keberatan jika agama dikatakan sederajat dengan kesenian yang disamakan seperti ketoprak, wayang dan sebagainya. Ia berkeyakinan bahwa ada sebuah ilmu agama, sedang yang menjadi objeknya adalah teks-teks islam seperti al-qur’an, hadits, dan ijma’ ulama yang dikaji tentang keyakinan melalui paradigma dan metode ilmiah. Beliau mengatakan bahwa ilmiahnya berbeda dengan yang lainnya. “Teks-teks islam tersebut dikaji, sehingga menjadi beberapa disiplin ilmu seperti ilmu tafsir, ilmu hadis dan sebagainya”, tambahnya.
Kemudian, ia mengatakan bahwa ada beberapa isu yang menjadi topik dalam bahasannya. Pertama, pengadilan tinggi agama akan diambil alih oleh mahkamah agung. Selain itu, isu lainnya ialah bagaimana pendidikan tinggi agama harus diserahkan kepada dinas pendidikan dan kebudayaan. Yang ketiga, pengembangan integritas terhadap fokus kajian keagamaan untuk mencapai intergritas. “Tugas kita sekarang adalah mendialogkan teks agama dengan realitas empiris”, ucap Prof. DR. Noersyam. (RA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar